Pages

Selasa, 04 Agustus 2009

Manfaat stop merokok

KESEHATAN YANG LEBIH BAIK

Kesehatan adalah aset Anda yang paling berharga. Berdasarkan data yang terkumpul antara tahun 1995 dan 1999, Centers for Disease Control (CDC) memperkirakan perokok dewasa pria rata-rata kehilangan 13.2 tahun dari kehidupannya dan perokok dewasa wanita rata-rata kehilangan 14.5 tahun dari kehidupannya karena merokok. Oleh karena itu, stop merokok sekarang juga.

Risiko-risiko kesehatan akibat merokok sebenarnya disebabkan oleh bahan-bahan lain yang ditemukan dalam rokok Anda. Contohnya, rokok tembakau mempunyai lebih dari 4000 bahan kimia berbahaya dan 250 diantaranya dapat menyebabkan kanker. Berikut ini beberapa dampak dan risiko penyakit akibat rokok:
  • Kanker paru-paru, kanker mulut, kanker usus, kanker ginjal, kanker mulut rahim, kanker darah, kanker tenggorokan, kanker pankreas dan kanker kandung kemih.
  • Penyakit jantung: serangan jantung dan stroke.
  • Gangguan saluran pernapasan: Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), infeksi paru (pneumonia) dan asma.
  • Pada kehamilan dan persalinan: berat badan lahir rendah, komplikasi kehamilan, infertilitas dan kematian janin secara mendadak.
  • Lain-lain: luka lama sembuhnya, tulang pinggul retak, densitas tulang yang rendah dan katarak.
Diambil dr Stopmerokok.com

Rokok Tidak Berbahaya bila ...............

Terbukti ROKOK tidak berbahaya bagi kesehatan !!!
Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah diselidiki oleh beberapa pakar dalam bidangnya ternyata rokok itu sama sekali tidak berbahaya. Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala di mana pada waktu itu nenek moyang kitapun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan, buktinya seperti cerita di bawah ini, dia tetap sehat walafiat.

Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang dokter. Mereka selalu bersama ke mana saja mereka pergi. Tapi ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.
A. dr Jon Poni (suka main perempuan)
B. dr Jon Joni (suka minum minuman keras)
C. dr Jon Doni (suka segala jenis rokok) .
Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan.
Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/kendi (seperti cerita Aladin). Lalu salah seorang mengambilnya lalu menggosok-gosokkan ketel tersebut. Sejurus kemudian asap keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: "Ha ha ha..." dan berkata "Akulah Jin Ifrit!
Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian. Ketiga sahabat yang pada mulanya panik dan takut menjadi gembira lalu termenung dan berpikir tentang peluang dan kemauan
masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup mereka. Lalu mereka memilih kemauan mengikuti kegemaran masing-masing.

Berkatalah si A,"Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa diseluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun."
Pufff ........!! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si A.
Berkata si B, "Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun."
Pufff .......... !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si B.
Berkata pula si C, "Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun."
Pufff ........... !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si C.

Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan. Maka jin tersebut pergi membuka pintu gua si A, ketika dibuka maka keluarlah si A dengan keadaan kurus
kering, berdiri pun tidak bisa karena tidak sanggup untuk menggerakkan lutut sebab hari-hari hanya memuaskan nafsu dengan perempuan.
Tiba-tiba si A pun jatuh ketanah lalu mati !!
Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si B, ketika pintu dibuka maka keluarlah si B dengan perutyang sangat buncit karena hari-hari mabuk-mabukan. Jalan pun terhuyung-huyung.
Tiba-tiba si B pun jatuh ketanah lalu mati !!
Setelah itu jin pergi ke gua si C dan membuka pintu gua. Tiba2 si C keluar dalam keadaan sehat walafiat dan terus MENAMPAR si jin. Sambil memaki si jin ia berkata :

JIN GUOBLUOOOKK. ...!!!! KOREKNYA MANA ...???!!!

Jadi kesimpulannya : "Rokok Tidak Berbahaya jika tidak ada koreknya"

Diambil dari milis Poltek-89

Perang Rokok

Perang Rokok RI-AS

Sabtu, 27 Juni 2009 | 05:25 WIB

Kartono Mohamad

Sejak tahun 1970-an, konsumsi rokok di Amerika Serikat menurun drastis karena meningkatnya kesadaran akan kesehatan.

Jumlah perokok yang semula mencapai 46 persen dari penduduk AS pada tahun 1950 turun menjadi 21 persen tahun 2004. Penurunan jumlah perokok itu juga diikuti jumlah penderita kanker paru sejak tahun 1960.

Penurunan konsumsi rokok itu meresahkan industri rokok. Maka, sejak 1975 mereka membuka pasar luar negeri, terutama negara-negara yang belum sadar akan bahaya rokok bagi kesehatan. Ekspor Philip Morris, RJ Reynolds, dan Brown Williamson meningkat tiga kali lipat tahun 1994 dibandingkan tahun 1975, dari 50 miliar dollar AS menjadi 220 miliar dollar AS.

Upaya mereka itu mendapat dukungan Pemerintah AS yang melakukan negosiasi dengan negara lain berdasarkan perjanjian GATT. Di antara empat negara Asia yang dibujuk untuk mengimpor rokok AS, hanya Thailand yang berani menolak atas alasan melindungi kesehatan rakyat yang sah menurut GATT.

Indonesia menyerah tanpa syarat kepada tekanan AS dan membuka pintu seluas-luasnya industri rokok AS ke Indonesia. Mereka bebas mengiklankan rokok tanpa ada batasan meski di negaranya banyak dibatasi.

UU baru

Pembatasan pemasaran rokok di AS sudah banyak dilakukan oleh negara-negara bagian. Tetapi, sebegitu jauh belum ada undang-undang federal yang dapat digunakan untuk membatasi konsumsi rokok secara menyeluruh. Beberapa waktu lalu, Presiden Obama menandatangani UU berjudul Family Smoking Protection and Tobacco Control Act. Dalam pidatonya, Obama mengatakan, ”Setelah berpuluh tahun kita berjuang untuk melindungi anak-anak kita dari dampak rokok, akhirnya kini kita menang. Telah lama kita mengetahui bahwa rokok adalah adiktif, berbahaya, dan mematikan. Setiap tahun, orang Amerika membayar 100 miliar dollar tambahan untuk membiayai penyakit akibat tembakau. Tiap hari sekitar 1.000 remaja menjadi pencandu rokok. Undang-undang ini akan menyelamatkan jiwa rakyat Amerika.”

Dengan UU itu kini FDA berwenang mengatur peredaran produk tembakau di Amerika Serikat. Ada beberapa langkah yang diamanatkan UU itu, yaitu pertama, dalam tiga bulan setelah UU ini berlaku, FDA akan mengharuskan industri rokok menyerahkan daftar isi kandungan rokok secara lengkap kepada Pusat Pengendalian Produk Tembakau yang akan dibentuk. Kelak semua rokok yang dijual di AS harus mencantumkan semua zat kimia yang terkandung di dalam sebatang rokok.

Kedua, juga dalam waktu tiga bulan, FDA akan mengeluarkan larangan produk tembakau diberi tambahan rasa.

Ketiga, dalam waktu satu tahun, FDA akan melarang pemasaran dan penjualan rokok kepada anak-anak, melarang penggunaan kata light, mild, dan low tar pada rokok serta memperbesar peringatan kesehatan pada kemasan rokok dari 30 persen menjadi 50 persen.

Mengenai istilah mild, light, dan low tar, sebelumnya telah keluar keputusan pengadilan tinggi Washington DC yang menyatakan, pabrik rokok telah melakukan pembohongan publik dengan kata-kata itu.

Kretek

Dikabarkan, dalam zat yang akan dilarang dicampurkan ke rokok adalah cengkeh. Keputusan ini akan memukul ekspor kretek dari Indonesia ke AS yang kini bernilai sekitar 100 juta dollar AS per tahun. Khawatir bahwa UU AS yang baru itu akan merugikan Indonesia, Dubes Indonesia di AS Sudjadnan Parnohadiningrat mengirim surat keberatan dan mengancam akan membawa masalah ini ke WTO.

Sebaliknya, pihak AS membantah bahwa ketentuan pelarangan cengkeh dalam rokok itu bertentangan dengan WTO karena tujuan peraturan itu bukan untuk melindungi industri rokok dalam negeri, tetapi untuk melindungi kesehatan rakyat. Untuk itu AS mempunyai bukti berupa hasil penelitian Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) yang menunjukkan, cengkeh dalam rokok membuat lebih banyak lagi nikotin, karbon monoksida, dan tar yang masuk paru-paru dibandingkan rokok biasa. Alasan itu dapat menyanggah tuduhan Indonesia bahwa AS telah melakukan diskriminasi yang melanggar WTO, kata Claude Barfield dari American Enterprise Institute.

Jika WTO meluluskan alasan itu, sekali lagi Indonesia kalah dalam perang rokok melawan AS. Thailand berhasil menggunakan alasan melindungi kesehatan rakyatnya dalam menolak tekanan AS. Kini AS menggunakan dalih yang sama dalam melawan tekanan Pemerintah RI.

Sebaliknya, selama ini Pemerintah Indonesia lebih memilih melindungi industri rokok daripada kesehatan rakyat. Pemerintah, antara lain, menolak menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dari WHO dan menolak membuat undang-undang pengendalian dampak tembakau. Semua itu demi melindungi industri rokok. Jika negara lain, termasuk AS, memilih melindungi kesehatan rakyat dari dampak rokok, Pemerintah Indonesia memilih tidak peduli terhadap hal itu.

Kini masalah diperparah dengan diakuisisinya 85 persen kepemilikan Bentoel oleh BAT (British American Tobacco). Mungkin kita mengira hal itu akan membuka peluang kerja lebih besar bagi buruh Indonesia. Suatu hal yang belum tentu jika ada mekanisasi pembuatan rokok. Yang pasti BAT akan meneruskan produksi kretek sebagai andalan Bentoel selama ini dan pemasarannya pasti dipusatkan di dalam negeri karena ekspor kretek akan kian sulit. Dengan kata lain, dengan PM dan BAT menguasai saham terbesar industri rokok di Indonesia, berarti sebagian besar keuntungan akan dibawa ke luar negeri. Yang ditinggalkan di Indonesia hanya penyakit akibat rokok. Jika itu terjadi, Indonesia tiga kali kalah dalam perang rokok ini.

Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/27/ 0525539/perang. rokok.ri- as

Selasa, 28 Juli 2009

Sebagian Besar Perokok Menengah ke Bawah

70 Persen Perokok Menengah Bawah

Rabu, 1 Juli 2009 | 03:48 WIB

Jakarta, Kompas - Saat ini lebih dari 70 persen dari 60 juta perokok di Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

”Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang kehancuran bangsa,” kata mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa Moeloek saat peluncuran buku berjudul Tembakau: Ancaman Global di Jakarta, Selasa (30/6).

Buku yang diterjemahkan dari karya John Crofton dan David Simpson ini disunting oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru- paru. John Crofton adalah tutor dari Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya pemberantasan tuberkulosis (TB).

Kini konsumsi rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia setelah China dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok. Mereka rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari.

Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok menempati urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen).

Yang lebih memprihatinkan, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006, kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi belanja rokok yang lebih besar (12 persen) daripada kelompok terkaya yang hanya 7 persen.

”Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan 15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan telur,” kata Tulus Abadi, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Survei tahun 1999-2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di perkotaan menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen) adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati peringkat tertinggi (22 persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran makanan pokok beras (19 persen). Sementara itu, pengeluaran untuk telur hanya 3 persen dan ikan hanya 4 persen.

Perilaku merokok kepala rumah tangga berhubungan erat dengan gizi buruk, yaitu prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan anak sangat pendek.

”Studi sejenis pada 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga miskin di perkotaan dan pedesaan membuktikan kematian bayi dan anak balita lebih tinggi pada keluarga yang orangtuanya merokok daripada yang tak merokok,” ujar Tulus. (LOK)

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/01/ 03481187/ 70.persen. .perokok. menengah. bawah

Awas Iklan Rokok

Industri Rokok

Iklan Rokok Kepung Para Remaja

Jumat, 10 Juli 2009 | 09:07 WIB

Elok Dyah Messwati

Jika Anda menyusuri jalanan di Jakarta, dengan mudah Anda akan melihat sejumlah papan iklan rokok. Baik berbentuk reklame raksasa yang nangkring di atas pos-pos polisi, papan reklame elektronik, maupun lampu hias jalan.

klan rokok tersebut ada di mana-mana: di perempatan jalan, di pusat niaga, terminal bus, stasiun kereta, jembatan penyeberangan, bahkan kios dan warung pun ditempeli iklan rokok.

Tidak itu saja, promosi dan sponsor rokok hadir di peristiwa-peristiwa ( event ) olahraga, pentas, atau konser musik anak muda. Bisa jadi ditempel besar sebagai judul acara dengan kalimat-kalimat khas iklan rokok, bisa juga dalam bentuk umbul-umbul di sekitar arena. Ya, remaja Indonesia kini terkepung iklan dan promosi rokok di mana-mana.

Televisi merupakan media yang sangat diminati industri rokok untuk mengiklankan produk mereka. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dari 14.249 iklan rokok, 9.230 iklan ditayangkan di televisi. Dari 10 stasiun televisi yang dipantau, semuanya menayangkan iklan rokok. Tepat pukul 21.30 layar televisi kita dipenuhi sejumlah iklan rokok.

Saat jeda iklan ( commercial break ) yang berdurasi 5-10 menit, sedikitnya ditayangkan 5-7 iklan rokok. Namun, di luar waktu tayang iklan rokok yang diizinkan, ternyata televisi tetap menayangkan iklan kegiatan dan acara yang disponsori industri rokok.

Mensponsori sebuah event merupakan salah satu strategi andalan industri rokok dalam memasarkan produk dan mendekati target pasar mereka. Dengan mensponsori sebuah event , memungkinkan bagi industri rokok untuk berinteraksi secara langsung dengan target pasar mereka.

Banyak event

Berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang dilakukan selama 10 bulan, event yang diselenggarakan/ disponsori oleh industri rokok sangatlah beragam dan menyentuh hampir semua segmen kalangan muda dan masyarakat umum mulai dari event musik, olahraga, film layar lebar, acara televisi, seni budaya, hingga keagamaan.

Bahkan iklan rokok pun masuk ke film anak-anak, kata dr Kartono Muhammad dari Yayasan Jantung Indonesia menanggapi film King yang disisipi iklan rokok.

Iklan-iklan rokok yang makin ekspansif dan gencar tersebut menimbulkan keinginan pada remaja untuk memulai merokok. Sekitar 29 persen responden menyatakan terdorong kembali untuk menyalakan rokok setelah melihat iklan rokok, kata Dina Kania, Koordinator Advokasi Kebijakan Pengendalian Tembakau Komnas PA, saat lokakarya Meningkatkan Peran Media menuju Anak Indonesia Bebas Tembakau medio Juni 2009.

Dari hasil penelitian Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta dan Komnas PA, ternyata 99,7 persen anak-anak terpapar iklan rokok di televisi, 87 persen terpajan iklan rokok di luar ruang, 76,2 persen remaja melihat iklan rokok di koran dan majalah.

Rata-rata remaja mulai merokok pada usia 14 tahun. Sebanyak 31,5 persen remaja mulai merokok pada usia 15 tahun, bahkan 1,9 persen mulai merokok pada usia empat tahun.

Sebanyak 46,3 persen remaja berpendapat iklan rokok memiliki pengaruh yang besar untuk memulai merokok. Sementara itu, 41,5 persen remaja berpendapat, keterlibatan dalam kegiatan yang disponsori industri rokok memiliki pengaruh untuk mulai merokok.

Ada acara anak-anak dan remaja yang mengharuskan mereka membeli rokok agar bisa bermain atau masuk ke arena permainan. Sales promotion girl -nya memaksa anak-anak dan remaja membeli rokok. Malah banyak acara yang membagikan rokok secara gratis, kata Dina Kania.

Elaine Yin, Associate Director International Communications Campaign for Tobacco Free Kids, mengatakan, promosi rokok secara tidak langsung melalui acara olahraga dan pentas musik kini makin banyak dilakukan. Itu memang salah satu cara, kata Elaine Yin.

Heran

Sementara itu, Mary Asunta dari South East Asia Tobacco Control Alliance menyatakan keheranannya melihat begitu brutal-nya iklan rokok di Indonesia. Mengapa bisa begitu? Sebab, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) .

FCTC sudah diratifikasi oleh 164 negara. Saat penyusunan FCTC, Indonesia turut aktif memberikan sumbang saran isi FCTC, tapi saat penandatanganan, delegasi Indonesia tidak hadir, kata Mary Asunta.

Padahal, dengan meratifikasi FCTC, Indonesia akan mendapatkan keuntungan. Prof Prakit Vathesatogit dari National Committe for Control of Tobacco Use Thailand menyatakan, setelah Pemerintah Thailand meratifikasi FCTC, keuntungan yang didapat, antara lain, naiknya cukai rokok menjadikan naiknya pendapatan pemerintah.

Dengan pendapatan yang bertambah, Pemerintah Thailand bisa membangun MRT/BTS sehingga sarana transportasi menjadi makin baik, kesehatan masyarakat pun meningkat. Dan, biaya kesehatan masyarakat miskin menurun, kata Prof Prakit.

Selain itu, dengan menandatangani FCTC, industri rokok tidak bisa seenaknya beriklan seperti sekarang ini. Artinya, anak-anak dan remaja Indonesia terlindungi. Tidak seperti saat ini, iklan rokok menghadang kita di mana-mana.

Tulus Abadi, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), mengatakan, Pemerintah Indonesia sampai saat ini tidak memiliki iktikad baik untuk melindungi anak-anak dan remaja. Hal itu terbukti dengan belum disahkannya Undang-Undang Pengendalian Dampak Tembakau.

RUU Pengendalian Dampak Tembakau sudah masuk Program Legislasi Nasional. DPR sudah memberikan dukungan, kurang 13 tanda tangan saja. Tapi ternyata RUU itu belum juga disahkan. Kalau sampai masa jabatan DPR habis, artinya kita harus mulai lagi dari nol agar RUU itu dibahas dan disahkan, kata Sri Utari Setyawati dari Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Development.

Jika begini kenyataannya, patut dipertanyakan, apakah Pemerintah Indonesia memang tidak memiliki iktikad baik untuk melindungi anak-anak dan remaja Indonesia dari dampak buruk rokok?

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/10/ 09071513/ iklan.rokok. kepung.para. remaja